Labels

senja pagi. Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Bunga Kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bunga Kata. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Juli 2026

Surat untuk Anakku

 Assalamualaikum wr wb

Maaf ya, hanya bisa menyapa melalui teks saja. Semoga masih ada yg berkenan membaca hingga akhir. Eh, tdk dibaca pun tdk apa. Tidak akan mempengaruhi nilai sama sekali. Hehehe

Cepat sekali ya ternyata sudah berakhir saja. Rasanya banyak sekali perjalanan yg sdh kita lalui bersama. Dari berbagai perjalanan itu saya tdk tahu bagian mana yang paling membekas untuk kalian, dan entah membekas atau tidak, saya hanya bisa berharap semoga ada pelajaran yang dapat kalian ambil.

Di yudisium kemarin sprtnya sdh banyak disinggung oleh Pak Ustad soal keduniawian kehidupan pasca lulus, hubungan kalian dengan orang tua, termasuk juga hubungan kalian dengan guru. Oleh Pak Mathur juga sdh dispill tentang kondisi politik masa kini. Bagi saya kalian bebas mau jadi apa saja setelah ini; mau jadi saudagar kah, ilmuwan kah negarawan kah dan lain-lain bebas. Bukankah Nabi juga sosok negarawan yang menjadi teladan seluruh umat? Tetapi tetap, konteksnya li irshad al-nas. Izin saya kutip di salah satu teks nya manaqib Shaykh Abd al-Qadir al-Jaylani. Semoga tidak ilfeel ya. Atau jgn dilihat bahwa ini isi manaqib, lihat saja poinnya. Di dalamnya disebutkan

لا ينبغى لفقير أن يتصدّى و يتصدّر لإرشاد الناس إلا أن أعطاه الله علم العلماء و سياسة الملوك و حكمة الحكمآء

Ini saya kutip penjelasan dari ceramahnya pak Nusron Wahid, Menteri Agraria dan Tata Ruang Republik Indonesia yang beberapa waktu lalu menyampaikan sambutan dalam rangka setengah abad pesantren saya, eh maksudnya pesantren yg saya alumni darinya.

Jd, dalam konteks “irshad al-nas” itu ada 3; bisa melalui ilmal ulama, siyasatal muluk atau hikmatal hukama. Lah yang disampaikan oleh Pak Mathur kemarin itu menurut saya adalah irshad al-nas nya yang melalui siyasatal muluk. Termasuk juga posisinya pak nusron saat ini. Jd silahkan saja mausk politik kalau tujuannya adalah li irsyadinnas. Tp singkatnya menurut saya politik itu penuh trik. Jika tidak menguasai trik dan tidak faham medan, jangan sekali-kali terjun ke politik. Irshad al-nasnya bisa melalui ilmal ulama atau hikmatal hukama.

Atau tidak menjadi ketiganya pun tdk apa, jd CEO misal. Tp kembali lagi, semoga ilmu kalian bermanfaat. Saya mau mengutip Hikamnya Ibn Ataillah al -Sakandari (spt nya ini pernah saya sampaikan di kelas). Kalau pemahaman umumnya org bahwa manfaat itu sesuai bidangnya, misal belajar hadis, besok jd guru qurdis. Belajar farmasi, trus kerja di apotek. Itu pemahaman umumnya org. tp bukan spt ini yang dimaksud “manfaat” oleh Ibn Ataillah. Manfaat itu menurut beliau, apa yang kita lalukan sesuai dengan mizan al-shar’ atau timbangan syariat. Kalau yang kita lakukan sesuai dengan syariat, maka yg spt itu termasuk ilmu yang bermanfaat, sebaliknya jika tidak sesuai dg mizan al-shar’, maka bukan termasuk ilmu yang bermanfaat. Misalnya: kerja jd hakim, jika yang ia lakukan selama menjadi hakim sesuai dengan timbangan syariat, maka yang ia lakukan termasuk cerminan dr ilmu yang bermanfaat.

Atau misalnya yang putri sdh dilamar, dan setelah ini dituntut untuk menjadi the real ibu rumah tangga. Tidak apa. Its ok. Tidak akan ada yang sia-sia juga. Jd mahasiswa 4 tahun jg tdk sia-sia. Jd mahasiswanya bu ica 2 tahun juga tidak sia-sia. Hehehe. Tp saya berharap, (utamanya yang dalam kasus spt ini) kalian tidak berhenti belajar, tdk berhenti mencari ilmu, tidak berhenti ngaji. Katanya Ki Hajar Dewantara, “semua orang adalah guru dan semua tempat adalah sekolah” (mohon izin menambahkan) dan semua momen adalah pelajaran. Jangan berhenti belajar, krn kita sdh dituntut utk belajar sepanjang hayat, mulai dari belaian hingga ke liang lahat. Jd, menjadi ibu itu harus pinter. Spt nya sering sekali dikutip sama Neng Aan “al Umm Madrasatun, wa al-Ab Mudiruha” hehehee. Saya tunjukkan kutipan aslinya ya. Ini maqalahnya hafiz Ibrahim, penyair dari Mesir. Beliau berkata:


الأم مدرسة إذا أعددتها أعددت شعبا طيب الأعراق
الأم روض إن تعهده الحيا بالريّ أورق أيما إيراق
الأم أستاذ الأساتذة الألى شغلت مآثرهم مدى الآفاق

Artinya “Ibu adalah madrasah. Jika engkau persiapkan dengan baik, maka engkau tengah mempersiapkan satu bangsa yang unggul.”

“Ibu adalah taman (yang subur), jika disirami oleh kasih sayang (pendidikan), ia akan menumbuhkan (menghasilkan generasi) yang luar biasa rimbun/baik.”

“Ibu adalah guru pertama bagi para guru, di mana pengaruh mereka yang terpuji membentang di sepanjang ufuk.”

Setidaknya kita bisa menjadi contoh baik utk keturunan kita. Semoga kita selalu diberi taufiq sama Allah biar semangat mencari ilmu terus ya dan semoga keturunan kita baik-baik salih salihah ya. Amin

Eh, bagaimana kemarin perasaannya pertama kali dipanggil nama lengkap dg titelnya? Kok spt nya saya amati biasa saja sih? Kok bisa? Saya mau menyampaikan bahwa “makna” itu tergantung bagaimana kita. Semua tau lafal “La ilaha Illa Allah” kan. Semuanya tau artinya kan. Tp lafal ini menjadi berbeda saat diucapkan oleh pengiring jenazah, saat diucapkan oleh jamaah salat selepas salam, bahkan juga berbeda saat yang mengucapkan adalah Rhoma Irama sebelum memulai bernyanyi. Perhatikan ketiga subjek itu. Apakah lafalnya jadi beda? Tidak. Apakah artinya jadi beda? Juga tidak. Tp apakah maknanya berbeda? Tentu iya. Jika kita mendengar iring-iringan jenazah menyebutkan itu, nuansanya menjadi haru berbalut sedih dan sedikit horor. Jika kita mendengar jamaah salat selepas salam, lafal ini terdengar biasa saja. Berbeda juga ketika yang melafalkan adalah Rhoma Irama, nuansanya menjadi spt semangat berapi-api. Maka bagaimana kesimpulannya? Makna itu tergantung bagaimana kita memperlakukannya.

Dulu masa saya, waktu pembekalan wisuda S1. Diisi oleh Pak Imam Nahrawi. Ya, salah satu politisi yang kemarin disebutkan sama pak Mathur. Waktu itu beliau masih menjadi mentri. Saya ingat betul waktu itu beliau menyampaikan bahwa saat wisuda ketika menjabat tangan pak rektor, beliau berkata, “pak, mohon doakan saya, semoga ilmu saya bermanfaat dan ijazah saya berkah.” Dan saya pun jd ittiba’an ini. Ketika ttd, saya selipkan doa ini. Ya saya taulah saya siapanya kalian yang mungkin doanya belum mampu mengetuk pintu langit, tp apapun itu, ini ikhtiar saya.

Kembali lagi ke yang tadi. Setelah beliau menyampaikan seperti itu, saya mulai menyelami makna. Saya praktikkan saat wisuda S1 dan S2. Jd, momen wisuda saya jalani se-khidmat mungkin. Waktu jajaran senat memasuki ruang wisuda, diiringi oleh salawatnya padus UINSA, salawat yang mengiringi ini tdk pernah diganti. Salatu wa taslimu wa azka tahiyyati alal mustafal mukhtari khoiri bariyyati. Salawat yang ini pakai nada klasik kalamun qodimun. Salawat ini didendangkan, jajaran senat, jajaran rektor, para guru-besar dan para dekan masuk berbaris ke panggung utama acara. Semua hadirin berdiri. Waktu itu yang selalu saya bisikkan dalam hati, “ya Allah, saya ingin diberi ilmu yang bermanfaat. saya ingin tidak jauh dari ilmu, spt org-org yang melewati saya saat ini. Saya tidak tahu akan jadi apa saya ke depan, yg saya inginkan, saya diberi manfaat dan selalu dalam lindungan Tuhan.” Dan selalu sambil menangis, termasuk ketika mengetikkan tulisan ini di sini. Entah karena saya yang cengeng atau tidak, bagi saya yg seperti ini lebih bisa memunculkan “makna”.

Memang acara wisuda adalah perayaan, yudisium adalah walimahnya. Sekalipun perayaan itu identik dengan bersenang-senang, tp saya harap, kalian tidak kehilangan makna. Saya tidak tahu bagaimana design acaranya, apa dibuat mengharukan atau justru dibuat membahagiakan atau justru sangat flat menurut kalian, yang jelas pihak utama yang dapat membuat sesuatu menjadi bermakna itu bukan org lain, tp kita sendiri. Saat wisuda besok, saat resmi dipindahkan tali toganya oleh ustad, jangan lupa sambil bilang, “mohon doanya, ustad.” Jgn lupa bicara sama Allah juga.

Ohya, satu lagi. Di wisuda kemarin² itu alur jalan wisudawannya begini: yg putra jalan - ke pak samaun - ke pak ustad - melewati saya - turun - kembali ke tempat duduk. Yg putri jg demikian: naik ke panggung - ke saya - ke pak ustad - melewati pak samaun - turun - kembali ke posisi. Ini kemarin waktu evaluasi wisuda sdh saya sampaikan. Yg saya kritiki terkait ini ada beberapa. Di antaranya adalah wisudawannya salim² di atas, tp di bawah, melewati keluarga ndalem dan waktu itu ada pak yai dan nyi, dilewati saja. Saya tdk tau alur besok bgmn. Tp, jika besok alurnya tetap spt ini, tdk ada alur salim ke nyi/ ke pak yai, tolong diatur bgmn sopannya. Saya tahu mungkin di antara kalian ada yg tdk hobby salim, waktu² naik turun panggung sangat memungkinkan kondisinya sedang salting/ grogi/ apalah lainnya yg mengakibatkan jalannya sangat tegak dan cenderung cepat. Setidaknya waktu melewati beliau² tolong jalannya dipelankan, badannya sedikit dibungkukkan agar kiranya pencapaian kalian saat itu tdk hanya berdampak pada tambahan kata² di nama saja, tp juga bertambah baik adabnya.

Wah, sdh bicara banyak sekali saya, sampai 3 halaman ini kertas A4. Tp dr bicara saya yang banyak ini semoga ada yg bisa kalian dr tulisan saya ke kalian utk yang terakhir kalinya. Terimakasih banyak ya. Katanya, li kulli shay’ zakat, wa zakat al-`ilm al-ta`lim. Segala sesuatu ada zakatnya, dan zakatnya ilmu itu mengajarkannya. Krn adanya kalian, saya bisa menzakati ilmu saya. terimakasih banyak ya. Berkat kalian pula, saya juga bisa lebih melapangkan hati saya, belajar bersabar terus menerus, belajar menguatkan mental. Demikian barangkali dg mental yang kuat dan hati yang telah tertata, saya akan menjadi manusia yang lebih matang ke depan. Terimakasih.

Terakhir, semoga ilmu kalian bermanfaat dan ijazah kalian berkah. Bisa jadi jalanan kalian setelah ini tidak sebagaimana aspal yang rata, tp semoga kalian selalu dalam lindungan Allah ta’ala. Semoga kalian dimampukan utk merubah yg dapat dirubah, diberikan kesabaran terhadap apa yg tdk bisa dirubah dan diberi kebijaksanaan terhadap keduanya. Amiiin.

 

Minggu, 01 Desember 2013

Teot-Teot


Teot-teot
Langkah laki terhentak lepas menuju satu cahaya
Dengan lincah semangat bergejolak tak henti
Dengan pijakan kaki kuat
Ternyata
Teot-teot
Cahaya yang terang itu anak fatamorgana


Trus ku jalan tanpa menyapa si biadap cahaya
Dengan ditemani asa yang kuat ku arungi cahaya
Kini engkau mulai muncul wahai cinta
Tak kusangka begitu indah
Semakin dekat kumenerpamu
Tapi kau lari terbirit-birit
Ternyata
Teot-teot
Kau adalah kedustaan


Biar..
Biar dia lari sejauh waktu
Karna ku adalah pejuang
Yang tak henti bertikai dengan zaman
Masalah kan kuhantam dengan kelihaian
Karna kuhanya butuh pasukan
Ternyata
Teot-teot
Ku takut dengan pasukan




#potret indonesia
10-01-13

Wed Madane.  Kamis, 10 januari 2013
                                                                                                              18.42