Assalamualaikum wr wb
Maaf ya, hanya bisa menyapa melalui teks saja. Semoga
masih ada yg berkenan membaca hingga akhir. Eh, tdk dibaca pun tdk apa. Tidak akan
mempengaruhi nilai sama sekali. Hehehe
Cepat sekali ya ternyata sudah berakhir saja. Rasanya
banyak sekali perjalanan yg sdh kita lalui bersama. Dari berbagai perjalanan
itu saya tdk tahu bagian mana yang paling membekas untuk kalian, dan entah
membekas atau tidak, saya hanya bisa berharap semoga ada pelajaran yang dapat
kalian ambil.
Di yudisium kemarin sprtnya sdh banyak
disinggung oleh Pak Ustad soal keduniawian kehidupan pasca lulus, hubungan kalian
dengan orang tua, termasuk juga hubungan kalian dengan guru. Oleh Pak Mathur
juga sdh dispill tentang kondisi politik masa kini. Bagi saya kalian bebas mau
jadi apa saja setelah ini; mau jadi saudagar kah, ilmuwan kah negarawan kah dan
lain-lain bebas. Bukankah Nabi juga sosok negarawan yang menjadi teladan
seluruh umat? Tetapi tetap, konteksnya li irshad al-nas. Izin saya kutip di
salah satu teks nya manaqib Shaykh Abd al-Qadir al-Jaylani. Semoga tidak ilfeel
ya. Atau jgn dilihat bahwa ini isi manaqib, lihat saja poinnya. Di dalamnya
disebutkan
لا ينبغى لفقير أن يتصدّى و يتصدّر
لإرشاد الناس إلا أن أعطاه الله علم العلماء و سياسة الملوك و حكمة الحكمآء
Ini saya kutip penjelasan
dari ceramahnya pak Nusron Wahid, Menteri Agraria dan Tata Ruang Republik
Indonesia yang beberapa waktu lalu menyampaikan sambutan dalam rangka setengah
abad pesantren saya, eh maksudnya pesantren yg saya alumni darinya.
Jd, dalam konteks “irshad
al-nas” itu ada 3; bisa melalui ilmal ulama, siyasatal muluk atau hikmatal
hukama. Lah yang disampaikan oleh Pak Mathur kemarin itu menurut saya adalah irshad
al-nas nya yang melalui siyasatal muluk. Termasuk juga posisinya pak nusron
saat ini. Jd silahkan saja mausk politik kalau tujuannya adalah li irsyadinnas.
Tp singkatnya menurut saya politik itu penuh trik. Jika tidak menguasai trik
dan tidak faham medan, jangan sekali-kali terjun ke politik. Irshad al-nasnya
bisa melalui ilmal ulama atau hikmatal hukama.
Atau tidak menjadi
ketiganya pun tdk apa, jd CEO misal. Tp kembali lagi, semoga ilmu kalian
bermanfaat. Saya mau mengutip Hikamnya Ibn Ataillah al -Sakandari (spt nya ini
pernah saya sampaikan di kelas). Kalau pemahaman umumnya org bahwa manfaat itu
sesuai bidangnya, misal belajar hadis, besok jd guru qurdis. Belajar farmasi,
trus kerja di apotek. Itu pemahaman umumnya org. tp bukan spt ini yang dimaksud
“manfaat” oleh Ibn Ataillah. Manfaat itu menurut beliau, apa yang kita lalukan
sesuai dengan mizan al-shar’ atau timbangan syariat. Kalau yang kita lakukan
sesuai dengan syariat, maka yg spt itu termasuk ilmu yang bermanfaat,
sebaliknya jika tidak sesuai dg mizan al-shar’, maka bukan termasuk ilmu yang
bermanfaat. Misalnya: kerja jd hakim, jika yang ia lakukan selama menjadi hakim
sesuai dengan timbangan syariat, maka yang ia lakukan termasuk cerminan dr ilmu
yang bermanfaat.
Atau misalnya yang
putri sdh dilamar, dan setelah ini dituntut untuk menjadi the real ibu rumah
tangga. Tidak apa. Its ok. Tidak akan ada yang sia-sia juga. Jd mahasiswa 4
tahun jg tdk sia-sia. Jd mahasiswanya bu ica 2 tahun juga tidak sia-sia. Hehehe.
Tp saya berharap, (utamanya yang dalam kasus spt ini) kalian tidak berhenti
belajar, tdk berhenti mencari ilmu, tidak berhenti ngaji. Katanya Ki Hajar
Dewantara, “semua orang adalah guru dan semua tempat adalah sekolah” (mohon
izin menambahkan) dan semua momen adalah pelajaran. Jangan berhenti belajar, krn
kita sdh dituntut utk belajar sepanjang hayat, mulai dari belaian hingga ke
liang lahat. Jd, menjadi ibu itu harus pinter. Spt nya sering sekali dikutip
sama Neng Aan “al Umm Madrasatun, wa al-Ab Mudiruha” hehehee. Saya tunjukkan
kutipan aslinya ya. Ini maqalahnya hafiz Ibrahim, penyair dari Mesir. Beliau berkata:
الأم مدرسة إذا أعددتها أعددت شعبا طيب الأعراق
الأم روض إن تعهده الحيا بالريّ أورق أيما إيراق
الأم أستاذ الأساتذة الألى شغلت مآثرهم مدى الآفاق
Artinya “Ibu adalah
madrasah. Jika engkau persiapkan dengan baik, maka engkau tengah mempersiapkan
satu bangsa yang unggul.”
“Ibu adalah taman
(yang subur), jika disirami oleh kasih sayang (pendidikan), ia akan menumbuhkan
(menghasilkan generasi) yang luar biasa rimbun/baik.”
“Ibu adalah guru
pertama bagi para guru, di mana pengaruh mereka yang terpuji membentang di
sepanjang ufuk.”
Setidaknya kita bisa
menjadi contoh baik utk keturunan kita. Semoga kita selalu diberi taufiq sama
Allah biar semangat mencari ilmu terus ya dan semoga keturunan kita baik-baik
salih salihah ya. Amin
Eh, bagaimana
kemarin perasaannya pertama kali dipanggil nama lengkap dg titelnya? Kok spt
nya saya amati biasa saja sih? Kok bisa? Saya mau menyampaikan bahwa “makna”
itu tergantung bagaimana kita. Semua tau lafal “La ilaha Illa Allah” kan. Semuanya
tau artinya kan. Tp lafal ini menjadi berbeda saat diucapkan oleh pengiring
jenazah, saat diucapkan oleh jamaah salat selepas salam, bahkan juga berbeda
saat yang mengucapkan adalah Rhoma Irama sebelum memulai bernyanyi. Perhatikan ketiga
subjek itu. Apakah lafalnya jadi beda? Tidak. Apakah artinya jadi beda? Juga tidak.
Tp apakah maknanya berbeda? Tentu iya. Jika kita mendengar iring-iringan
jenazah menyebutkan itu, nuansanya menjadi haru berbalut sedih dan sedikit
horor. Jika kita mendengar jamaah salat selepas salam, lafal ini terdengar
biasa saja. Berbeda juga ketika yang melafalkan adalah Rhoma Irama, nuansanya
menjadi spt semangat berapi-api. Maka bagaimana kesimpulannya? Makna itu
tergantung bagaimana kita memperlakukannya.
Dulu masa saya,
waktu pembekalan wisuda S1. Diisi oleh Pak Imam Nahrawi. Ya, salah satu
politisi yang kemarin disebutkan sama pak Mathur. Waktu itu beliau masih
menjadi mentri. Saya ingat betul waktu itu beliau menyampaikan bahwa saat
wisuda ketika menjabat tangan pak rektor, beliau berkata, “pak, mohon doakan
saya, semoga ilmu saya bermanfaat dan ijazah saya berkah.” Dan saya pun jd
ittiba’an ini. Ketika ttd, saya selipkan doa ini. Ya saya taulah saya siapanya
kalian yang mungkin doanya belum mampu mengetuk pintu langit, tp apapun itu,
ini ikhtiar saya.
Kembali lagi ke yang
tadi. Setelah beliau menyampaikan seperti itu, saya mulai menyelami makna. Saya
praktikkan saat wisuda S1 dan S2. Jd, momen wisuda saya jalani se-khidmat
mungkin. Waktu jajaran senat memasuki ruang wisuda, diiringi oleh salawatnya
padus UINSA, salawat yang mengiringi ini tdk pernah diganti. Salatu wa taslimu
wa azka tahiyyati alal mustafal mukhtari khoiri bariyyati. Salawat yang ini
pakai nada klasik kalamun qodimun. Salawat ini didendangkan, jajaran senat, jajaran
rektor, para guru-besar dan para dekan masuk berbaris ke panggung utama acara. Semua
hadirin berdiri. Waktu itu yang selalu saya bisikkan dalam hati, “ya Allah,
saya ingin diberi ilmu yang bermanfaat. saya ingin tidak jauh dari ilmu, spt
org-org yang melewati saya saat ini. Saya tidak tahu akan jadi apa saya ke depan,
yg saya inginkan, saya diberi manfaat dan selalu dalam lindungan Tuhan.” Dan selalu
sambil menangis, termasuk ketika mengetikkan tulisan ini di sini. Entah karena
saya yang cengeng atau tidak, bagi saya yg seperti ini lebih bisa memunculkan “makna”.
Memang acara wisuda
adalah perayaan, yudisium adalah walimahnya. Sekalipun perayaan itu identik
dengan bersenang-senang, tp saya harap, kalian tidak kehilangan makna. Saya tidak
tahu bagaimana design acaranya, apa dibuat mengharukan atau justru dibuat
membahagiakan atau justru sangat flat menurut kalian, yang jelas pihak utama yang
dapat membuat sesuatu menjadi bermakna itu bukan org lain, tp kita sendiri. Saat
wisuda besok, saat resmi dipindahkan tali toganya oleh ustad, jangan lupa
sambil bilang, “mohon doanya, ustad.” Jgn lupa bicara sama Allah juga.
Wah, sdh bicara
banyak sekali saya, sampai 3 halaman ini kertas A4. Tp dr bicara saya yang
banyak ini semoga ada yg bisa kalian dr tulisan saya ke kalian utk yang
terakhir kalinya. Terimakasih banyak ya. Katanya, li kulli shay’ zakat, wa
zakat al-`ilm al-ta`lim. Segala sesuatu ada zakatnya, dan zakatnya ilmu itu mengajarkannya.
Krn adanya kalian, saya bisa menzakati ilmu saya. terimakasih banyak ya. Berkat
kalian pula, saya juga bisa lebih melapangkan hati saya, belajar bersabar terus
menerus, belajar menguatkan mental. Demikian barangkali dg mental yang kuat dan
hati yang telah tertata, saya akan menjadi manusia yang lebih matang ke depan. Terimakasih.
Terakhir, semoga
ilmu kalian bermanfaat dan ijazah kalian berkah. Bisa jadi jalanan kalian
setelah ini tidak sebagaimana aspal yang rata, tp semoga kalian selalu dalam
lindungan Allah ta’ala. Semoga kalian dimampukan utk merubah yg dapat dirubah,
diberikan kesabaran terhadap apa yg tdk bisa dirubah dan diberi kebijaksanaan
terhadap keduanya. Amiiin.
0 komentar:
Posting Komentar
thank's